PR IRM MAK 02 Pondok Modern Muhammadiyah Paciran

Belajar dari PR IRM MAK 02 Pondok Modern Muhammadiyah Paciran

Sedikit tidak selalu jadi minoritas, ringkas tidak selalu jadi kecil

–Fauluq Ulum

11 Agustus 1995 adalah hari yang terlalu bersejarah, namun tidak pernah diprasastikan, bagi IRM Pondok Modern, sebab pada hari itu lahir unexpected kid (anak yang tidak diharapkan), PR IRM MAK 02 Pondok Modern Muhammadiyah Paciran. Dikatakan bersejarah, karena baru berdiri satu tahun sudah kurang ajar berani mengobok-obok dan mengolok-olok Pimpinan Cabang, dikatakan tidak diharapkan, karena kelahirannya adalah buah perselingkuhan dan tidak direstui oleh nenek moyang dan dedengkot IPM/IRM yang mayoritas bersemayam di Pondok Modern.

PR IRM MAK 02 Pondok Modern Muhammadiyah Paciran berdiri setelah memisahkan diri dengan PR IRM MAU Pa/Pi Pondok Modern, dengan dukungan massa 38 siswa (17 siswa kelas satu dan 22 siswa kelas dua) yang selanjutnya 18 orang menjadi pimpinan dan 21 orang sisanya harus rela menjadi anggota.

Dua periode awal, PR IRM MAK 02 Pondok Modern Muhammadiyah Paciran ini menelurkan konsep ranting kecil-efektif. Dengan jumlah personal yang hanya 18 orang dan anggota yang ‘hanya’ 50-an orang, baik pimpinan maupun anggota dapat dengan mudah dikontrol, dan jika ada satu saja tidak aktif, akan sangat kelihatan dan sangat mudah untuk dimotivasi kembali.

Dalam sebuah tim yang relatif kecil, kebijaksanaan dan/atau kebijakan tidak harus selalu dimonopoli oleh pimpinan, anggotapun harus selalu dilibatkan dalam mengambilan keputusan. Setiap ada surat undangan dari manapun, selalu dibicarakan dalam ‘rapat massal’ pimpinan dan anggota, yang biasanya dilakukan di ruang kelas satu. Biasanya diputuskan beberapa orang yang harus hadir, sementara sisanya dengan suka rela memberi sumbangan, baik sumbangan sangu, SWP/SWO dan kebanyakan menyumbang do’a.

Dalam pengambilan keputusan, pun tidak selalu harus dilakukan dalam rapat formal. Rapat dapat dikemas dalam bentuk kongkow-kongkow di depan kelas (sambil cuci mata) atau di ruang kelas saat istrirahat (sambil makan kacang), atau di ladang (sambil bakar singkong) atau di rumah salah seorang pimpinan (sambil nonton TV).

Konsep lain yang pernah muncul dari ranting ini adalah, konsep pelatihan dengan seorang Master of Training (MoT) dan dua orang Co. MT serta standarisasi instrumen pelatihan (yang kedua-duanya ditiru oleh PC IRM Paciran).

Termasuk kalimat sakti, “Semoga Allah menerangi/melapangkan jalan hamba-hamba yang senantiasa berjuang di jalan-Nya” yang sering muncul dalam LPJ Pimpinan Cabang maupun LPJ beberapa ranting.

Hingga periode kedua, PR IRM MAK Pondok Modern menyandang predikat sebagai IRM Ranting yang paling banyak mengirim utusan dalam kegiatan Cabang selama periode Musycab IX-X, sekaligus memecahkan rekor yang dibuat oleh PR IRM MTs. M 01 Pa/Pi Pondok Modern pada periode Pimpinan Cabang sebelumnya.

Sedikit tidak selalu jadi minoritas, ringkas tidak selalu jadi kecil, itu prinsip yang saya tanamkan pada teman-teman IRM di MAK Modern.

Memperkenalkan konsep ranting yang ringkas, baik pimpinan maupun program kerjanya, memang tidak mudah. Ini terlihat sekali ketika konsep tersebut saya tawarkan pada PR IRM MTs.M 02 Pa dan Pi Karangasem yang ‘hanya’ bersedia menerima konsep program kerja dan menolak pimpinan dengan sedikit personal.

Logika kita berargumen bahwa dengan jumlah personal yang banyak, maka seluruh ranting dapat terwakili di Cabang, juga Cabang punya personal yang banyak yang dapat diandalkan untuk melaksanakan tugas-tugas cabang. Logika ini juga diperkuat dengan pernyataan, “Punya 40 personal pimpinan, jika tidak aktif 20 masih tersisa 20”.

Kenyataan memang terkadang berbicara tidak sama dengan rencana. Sejak kali pertama menjadi pimpinan IRM, tahun 1993, tiap tahun saya selalu saja menemukan susunan personal pimpinan ranting IRM di Paciran (Modern dan Karangasem) jumlahnya paling sedikit 40 personal.

Dan ini juga sebuah kenyataan, 30 kali lebih saya menghadiri Musyran IRM di ranting se-Cabang Paciran, isi LPJ selalu sama dari Musyran ke Musyran. Permasalahan organisasi yang diajukan juga selalu sama, “sebagian personal kurang sadar akan tanggungjawabnya sebagai pimpinan; kurang pengertian sebagai pimpinan; tidak bisa aktif; mengabaikan tanggung-jawabnya, cuek bebek; dan lain-lain”.

Kalau boleh saya balik, apakah personal pimpinannya yang tidak sadar tanggungjawab atau Ketua Umumnya yang tidak ‘becus’ memimpin/memotivasi timnya”. Pertanyaan ini kasar, tapi apa adanya.

Seorang pimpinan harus dapat berpikir logis dan realistis. Organisasi IRM setingkat ranting, jumlah personal pimpinan yang diperlukan tidak perlu besar. Hal ini mengingat program kerja, kegiatan dan cakupan ranting yang juga tidak memerlukan personal dalam jumlah besar.

Dengan jumlah personal pimpinan yang sedikit, akan lebih mudah bagi Ketua Umum untuk memotivasi anak buahnya, dan jika ada satu saja personal yang tidak aktif, akan sangat kelihatan, lalu pemecahannya hanya satu diantara dua, dimotivasi atau dinon-aktifkan.

‘Pekerjaan’ yang harus dilakukan oleh pimpinan IRM setingkat ranting atau cabang tidaklah terlalu banyak. Dengan jumlah pimpinan yang sedikit, maka pekerjaan tersebut dapat dibagi secara rata dan adil sesuai jabatan dan kemampuan masing-masing pimpinan.

Kenyataan yang sering berlaku di ranting adalah, bahwa yang sungguh-sungguh kerja setengah mampus adalah Ketua Umum dan Sekretaris Umum, atau mereka yang akrab dengan keduanya. Sementara mereka yang menjabat sebagai Wakil atau Ketua/Sekretaris Bidang tidak ubahnya seperi ban serep yang dipakai hanya kalau diperlukan. Jika sudah begini ceritanya, banyak personal pimpinan lebih memilih tidah aktif, toch semua pekerjaan sudah diborong habis oleh Ketua Umum dan/atau Sekretaris Umum.

Be the first to comment on "PR IRM MAK 02 Pondok Modern Muhammadiyah Paciran"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*