Orang Terkaya Ke-7 RI – Achmad Hamami

MENGENAL LEBIH DEKAT ACHMAD HAMAMI, SANG MANTAN PILOT PESAWAT JET TEMPUR YANG KAYA TANPA KORUPSI

Untuk menjadi pengusaha sukses tidak dibutuhkan latar belakang tertentu.

Tanpa korupsi, Achmad Hamami sukses jadi pengusaha insfrastruktur

Semua kalangan bisa menjalani profesi sebagai pebisnis tanpa memandang latar belakang tertentu, baik mereka yang putus sekolah ataupun mereka yang mempunyai pendidikan tinggi sekalipun. Bisnis biasanya dijadikan pekerjaan sampingan ataupun pilihan terakhir, setelah usaha untuk melamar pekerjaan tak satupun diterima. Untuk menjadi pebisnis yang ulung diperlukan kejujuran, kerja cerdas, dan kerja keras.

Achmad Hamami, Pemilik Tiara Marga Trakindo Group

Kejujuran disini berarti berkata apa adanya sesuai dengan keadaan yang ada; kerja cerdas sangat dibutuhkan untuk menunjang kelancaran bisnis karena segala sesuatu harus terkonsep, terencana, terarah dan fokus pada tujuan tertentu; sedangkan kerja keras artinya bisnis itu dikerjakan dengan sungguh-sungguh tanpa mengenal lelah dan tidak setengah-setengah. Pribahasa mengatakan bahwa hidup adalah misteri, di dunia bisnis semua bisa terjadi.

***

Ilustrasi di atas merupakan cermin kehidupan dari Achmad Hamami, purnawirawan TNI Angkatan Laut yang harus pensiun dini dari dinas kemiliteran. Melalui bisnisnya, Achmad Hamami berhasil menempati Orang Terkaya Ke-7 di Republik Indonesia.

Kami yakin, jika sobat belum mengetahui siapa itu Achmad Hamami? Jika belum, berikut ini kami sajikan kisah sukses Sang Mantan Pilot Jet Tempur TNI AL ini. Semoga sobat bisa menjadikan sebagai inspirasi kehidupan.

Memulai Membuka Usaha, Achmad Hamami Putuskan untuk Pensiun Dini Meskipun Lulus jadi Kolonel Muda

Dengan gelar kolonel muda tidak membuat Achmad Hamami menjadi bangga dan besar hati. Meskipun telah menyelesaikan pendidikan tingginya sebagai pilot di Inggris dan Belanda (Militaire Luchtvaart) yang pada akhirnya membuat Hamami mendapat gelar terhormat sebagai pilot jet tempur jempolan; membuatnya harus pensiun dini karena malu dengan praktek korupsi di sekitarnya.

Memiliki nama lenkap Achmad Hadiat Kismet Hamami bukan termasuk manusia serakah. Di saat karirnya mulai meroket dengan menempati posisi sebagai Wakil Direktur Operasi Departemen Pertahanan yang merupakan jaminan hidup masa depan bersama istri tercinta, Rubiasih Soemadipradja, dan ke-4 anaknya.

Hamami lebih survival dengan cara membuka usaha kecil-kecilan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Les privat mata pelajaran Matematika merupakan bisnis awal Achmad Hamami. Keempat anaknya membantu dengan cara berjualan es lilin untuk menopang kebutuhan keluarga. Siapa yang menyangka pebisnis ini sukses ketika berusia 81 tahun dengan melebarkan bisnis di sektor infrastruktur ini berhasil bersama anak-anaknya.

Ketika itu, perusahaan asing asal California, Amerika Serikat untuk sektor alat berat mulai tertarik dengan Achmad Hamami sebagai salah satu distributor Caterpillar. Meskipun Catepillar telah memiliki sub agen di Kota Surabaya, pihak manajemen telah memutuskan untuk menunjuk pria kelahiran Jakarta 29 Juli 1930 ini sebagai distibutor resmi karena track record militer yang pernah disandangnya juga reputasi Hamami yang cukup bersih dari korupsi.

Catepillar merupakan produsen peralatan pertambangan dan konstruksi, turbin gas industrial, serta mesin disel dan gas alam terbesar di dunia. Merek Catepillar sudah sangat terkenal luas di sektor bisnis konstruksi, perkebunan, kehutanan, pertambangan sebagai produsen alat berat yang cukup handal.

Keberhasilan mantan anggota TNI Angkatan Udara ini di awal tahun 1970 ketika berhasil mendirikan PT Trakindo Utama.

13 April 1971, PT Trakindo Utama Jadi distributor Resmi Tunggal Caterpillar di Indonesia dan Menjadi Bisnis Keluarga

Pada tanggal 13 April 1971, PT Trakindo Utama (Trakindo) berhasil menjadi distributor resmi tunggal Caterpillar yang telah mengantarkan Achmad Hamami sebagai taipan terkaya di Indonesia perikat 28 versi Majalah Forbes (2014). Trakindo merupakan anak perusahaan dari PT Tiara Marga Trakindo (TMT) yang didirikan pada tanggal 23 Desember 1970 oleh AHK “Met” Hamami. Seiring dengan perkembangan zaman, Trakindo pun menjadi pioner di sektor pengembangan infrastruktur nasional. Untuk mendukung kelancaran bisnis lain, tahun 1977 didirikan PT Sanggar Sarana Baja dan PT Chandra Sakti Leasing di tahun 1995 sehingga membuat Trakindo tak hanya menjadi distributor resmi alat berat saja, tapi memperluas ke bisnis lainnya.

Achmad Hadiat Kismet Hamami, bersama Keluarga besarnya

Trakindo sebagai distributor resmi mulai menawarkan beberapa produk lainnya seperti : mesin produk gas, alat berat dan diesel. Termasuk melayani jasa perbaikan (service) dan juga penjualan onderdil resmi Caterpillar. Selain itu, Trakindo juga melayani jasa perbaikan (service) untuk meyakinkan produknya bisa bekerja sebagaimana mestinya, tidak cepat rusak, dan produk sesuai dengan kebutuhan si konsumen.

Layanan Part Exchange Service (PES) juga disediakan Trakindo, berupa service yang bisa membantu para konsumen produk untuk menukar onderdil (spare parts) tua dengan yang baru. Dengan cara ini, konsumen tidak perlu mengeluarkan uang lebih untuk membeli produk serupa dan bisa mengurangi biaya perawatan. Intinya, konsumen akan diuntungkan dengan service tambahan berupa pengantian mesin baru yang kualitasnya sama.

Krisis Moneter Tahun 1999, Bisnis dan Kesehatan Achmad Hamami mulai Menurun

Krisis moneter yang melanda bangsa Indonesia tahun 1998-1999 membuat pelaku bisnis merasakan dampaknya, termasuk PT Trakindo Utama. Beban hutang Ahcmad Hamami sebesar US$ 118 juta (1,9 triliun) dengan kurs 16.650 (Juni 1998) merupakan masa tersulit bagi PT Trakindo Utama. Kondisi masin sulit setelah tidak ada satu pun lembaga keuangan yang mau membantu memberikan pinjaman kepada Hamami untuk menyelamatkan kerajaan bisnisnya.

Akibat kondisi di atas membuat kondisi kesehatan Hamami menurun, penyakit kebutaan mata (glaucoma) pun ia derita. Kondisi sulit seperti inilah sehingga Hamami membuat keputusan agar estafet PT Trakindo Utama dilanjutkan putra ketiganya, Rachmat Mulyana (Muki). Meskipun perusahaan dikendalikan oleh Muki, nahkota utama tetaplah Hamami yang berperan aktif kebangkitan Trakindo setelah krisis moneter.

Pasca krisis, pelan tapi pasti. Trakindo di bawah komando Muki pun berkembang dan tumbuh pesat. Perusahaan tidak hanya fokus pada sektor alat berat dan traktor saja, tapi juga mulai meluas ke sektor teknologi informasi, pertambangan, pembiayaan, hingga logistik.

Menariknya, di tahun 2009 perusahaan ini berkembang pesat tanpa pinjaman modal dari lembanga keuangan. Saat ini, Achmad Hamami merupakan taipan Orang Terkaya di Indonesia No-7 dengan nilai kekayaan sebesar US$ 2,2 Miliar.

Be the first to comment on "Orang Terkaya Ke-7 RI – Achmad Hamami"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*