Kisah Sukses Bos Pendiri Bosowa Corp

MENGENAL LEBIH DEKAT AKSA MAHMUD, PENDIRI BOSOWA CORP SANG PENJUAL KURMA DAN ES

Orang Terkaya Ke-36 di NKRI ini awal karirnya

sebagai penjual kurma dan es dan adik ipar Jusuf Kalla

Untuk sukses di masa depan tidak satu pun orang bisa memprediksi, karena masa depan itu belum pasti. Keinginan yang kuat serta diuletan yang tanggu sangat diperlukan untuk menjemput kesuksesan diri sendiri. Karena kunci kesuksesan hanya tiga hal, yaitu : kerja keras, kerja cerdas, dan pantang menyerah. Hal ini yang melekat pada diri Aksa Mahmud, Orang Terkaya di Indonesia Ke-36 versi Majalah Forbes.

Apakah sobat pernah dengan nama Aksa Mahmud?

Pernah atau belum! atau pernah dengar Semen Bosowa !

ya Semen Bosowa yang cukup terkenal itu !

Aksa Mahmud, Bos Pendiri & Pemilik Bosowa Corp

Jika belum, memiliki nama lengkap Muhammad Aksa Mahmud, Pendiri dan Pemilik Bosowa Corp adalah perusahaan induk (holding company) yang bergerak di sektor bisnis semen, energi, infrastruktur, jasa keuangan, logistik & transportasi, media, otomotif, pertambangan, properti, dan multi bisnis. Mari kita simak bersama kisah inspiratif apa di balik Biografi Aksa Mahmud dengan nilai kekayaan yang mencapai US$ 860 juta (Rp 10,58 triliun)? Berikut ini ulasanya

Aksa Mahmud Mengawali Karis sebagai Penjual Kurma dan Es

Aksa Mahmud dilahirkan di Desa Lapasu, Kabupaten Barru, Makassar, Sulawesi Selatan pada 16 Juli 1945 (73 tahun) ini bukan keturunan ningrat atau darah biru. Aksa lahir dari pasangan petani desa yaitu Haji Muhammad Mahmud dan Hajah Kambira. Aksa kecil dididik kedua orang tuanya untuk menjual hasil tani; inilah awal karir Aksa mulai belajar dan mengenal dunia bisnis.

Aksa kecil ketika masih duduk di Sekolah Rakyat (Volk School) Mangkoso Barru, pada bulan puasa ia pernah jualan kurma dan es eceran di sekolahnya. Tak hanya itu, Aksa juga pernah berjualan permen. Hobi bisnis Aksa tidak berhenti sampai disini. Ketika di bangku STM (1962-1965), ketika musim panen tiba, Aksa mulai menjajakan jualan kacang tanah dari kampung ke Kota Makassar. Dengan modal kepercayaan Aksa mulai menjalankan bisnisnya tanpa harus keluar modal uang.  

Banyak Hal yang Dilakukan Aksa Mahmud ketika Kuliah, mulai jadi Aktivis Kampus, Jurnalis sampai Masuk Sel Penjara

Pasca lulus STM, Aksa langsung melanjutnya studinya ke Universitas Hassanudin (Unhas) Makassar tahun 1965 dan mengambil Fakultas Teknik Elektro. Saat kuliah, suka duka senantiasa mewarnai kehidupannya, mulai aktif sebagai anggota di Pimpinan Cabang Himpunan Mahasiswa Mahasiswa (PC HMI) Kota Makassar, membuat radio amar, sampai menerbitkan koran mahasiswa. Aksa juga aktif di Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia, dari IPMI inilah Aksa mulai kenal dan akrab dengan seniornya, Jusuf Kalla. 

Para pemilik Bosowa, keluarga Aksa Mahmud. Erwin Aksa, Ramlah Kalla, Aksa Mahmud, dan Melinda Aksa (makassar.tribunnews.com)

Idealisme Aksa sebagai aktivis pers mahasiswa dibuktikan dengan membuat opini publik di media mahasiswa tentang Kodam Hassanudin dibawah komando Panglima Saidiman dengan Operasi Samsudari ini membuatnya harus masuk sel tahanan selama 10 hari meskipun tanpa pemeriksaan. “Tulisan Aksa subyektif berdasarkan fakta di lapangan, tapi alangkah baiknya tidak membuat opini publik seperti itu”, kata Panglima Kodam. Mulai saat itu, Aksa phobia dengan dengan dunia jurnalistik.

Aksa Mahmud Mendirikan CV Moneter dan Fokus ke Dunia Bisnis

Profesi sebagai junalistik membuat Aksa trauma, meskipun profesi ini telah dilaluinya bersama rekan di Koran Mahasiswa di Makassar, Sulawesi Setelan. Akhirnya, Aksa memutuskan untuk kembali berbisnis, bersama seniornya, Jusuf Kalla, untuk bekerja di Dolog Makassar.

Jusuf Kalla, saat itu dipercaya oleh Panglima Kodim Hassanuddin, Solichin GP untuk memimpin perusahaan Dolog untuk bertugas mendistribusikan sembilan bahan pokok ke masyarakat. Pekerjaan ini dilakukan Yusuf Kalla bersama para aktivisi mahasiswa angkatan 1966, termasuk Aksa Mahmud.

Akan tetapi, ayah Juruf Kalla, menyarankan Aksa untuk tidak bekerja di perusahaan Dolog Makassar, saran Haji Kalla. Suatu saat nanti, lanjut Haji Kalla, kau akan diturunkan paksa dari jabatan penting mu, karena orang order lama akan diganti dengan order baru melalui proses pressure group.  

Pesan yang sama juga disampaikan kepada anaknya, Jusuf Kalla. “Alangkah baiknya jika kamu (Jusuf Kalla) dan Aksa untuk meneruskan usaha keluarga Kalla yang sudah dirintis oleh ibu mu, NV Haji Kalla. Singkat kata, Jusuf Kalla dan Aksa Mahmud akhirnya bekerja di perusahaan keluarga Kalla.

Tanpa melalui proses pacaran, Aksa langsung dikenalkan dan dijodohkan dengan adik Jusuf Kalla, Siti Ramlah. Tentunya proses perjodohan mereka tentunya sudah dipikirkan dan dipertimbangan dengan sangat matang. Tentunya keluarga Kalla mempunyai pertimbangan tersendiri untuk memutuskan Aksa Mahmud sebagai bagian dari keluarga Haji Kalla. Melihat sosok Aksa yang berprestasi, kinerja, berani, jujur, tanggung jawab dan semangat kerja seakan melihat berlian indah pada diri Aksa.

Pernah suatu ketika, Aksa ditugaskan untuk Jakarta. Sementara itu, Siti Ramlah masih nyantri di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama di Wonokromo, Jawa Timur. Untuk memperkenalkan Aksa dengan anaknya, NV Haji Kalla menyuruh Aksa untuk mengantarkan suatu bingkisan kepada anaknya di Ponpes Wonokromo itu. Itulah cara mereka untuk mulai berkenalan dan bukan pacaran. “Ajal, nasib, dan jodoh itu adalah rahasia Tuhan”, kata Aksa. Karena pertemuan saya, lanjut Aksa, dengan istri saya juga rahasia Tuhan.

Termasuk kebersamaan dan persahabatan dengan Jusuf Kalla. Keduanya lahir dari daerah, keluarga dan fakultas yang berbeda. Pertemuan keduanya hanya di Organisasi Mahasiswa (Ormawa) dan juga sama-sama aktifis. Akan tetapi, dari semua aktivis mahasiswa angkatan 66 Aksa satu-satunya orang yang bekerja di perusahaan NV Haji Kalla plus bagian dari keluarga.

Pasca menikahi Siti Ramlah, Aksa berasumsi bahwa percuma saja harus selamanya bekerja di perusahaan mertuanya. Prinsip orang Bugis bahwa perahu pinisi itu hanya mempunyai nakhoda satu orang, dan itu adalah Jusuf Kalla, kakar ipar Aksa. Tentunya perusahaan NV Haji Kalla sudah mempersiapkan Jusuf Kalla sebagai nakhodanya.

Aksa pun mulai berfikir keras, kemudian berkata pada sang istri agar siap-siap menderita. Karena Aksa memutuskan untuk tidak selamanya kerja di perusahaan NV Haji Kalla. Sejak dulu, cita-cita Aksa adalah jadi orang nomor satu meskipun perusahaan kecil, daripada di perusahaan besar jadi orang nomor dua. Di perusahaan mertunya, Aksa cuma bertahan tiga tahun.  

Tahun 1973, CV Moneter didirikan Aksa sebagai perusahaan agen Mobil Datsun di Indonesia Timur. Untuk memulai bisnisnya, dengan modal Rp 5 juta dari Bank BNI; Aksa membuka show room mobil Datsun di Kota Makassar. Ketika acara soft opening perusahaan mertua Aksa hadir untuk memberikan dukungan dengan bisnis barunya.

Di tahun 1980, Mitsubishi menawarkan Aksa untuk menjadi agen distribusi di Indonesia Timur. Inilah awal mula berdirinya perusahaan Bosowa. Distributor Resmi Mitsubishi di Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian (KTB) memberikan syarat ke Aksa, bahwa perusahaanya harus menggunakan nama Tiga Berlian.

Aksa menjelaskan bahwa “Bone, Sopeng dan Wajo adalah tiga berlian di Sulawesi Selatan, karena ketiga kerajaan di Bugis ini tidak pernah berperang satu sama lain. Bone unggul akan pemerintahan, Sopeng dikenal sebagai produsen, dan Wajo mempunyai track record sebagai pebisnis”. “Itulah alasan saya menggunakan nama Bosowa, dan mereka semua setuju”, lanjut Aksa.

Itulah kisah dibalik nama Bosowa. Akhirnya Aksa resmi dipercaya sebagai agen Mitsubishi dan bisnis ini berkembang pesat sampai di 13 provinsi Indonesia Timur, sehingga membuat perusahaan Japang ini betul-betul memberikan kepercayaannya kepada Aksa dengan bendera PT Bosowa Berlian Motor.

Kekayaan Aksa melalui Bosowa Corporation bertambah 35% dari bisnis otomotif ini. Saat itu, PT Bosowa Berlian Motor tidak hanya jadi agen Mobil Mitsubishi tapi juga Mobil Marcedez Bens untuk wilayah Indonesia Timur.

Be the first to comment on "Kisah Sukses Bos Pendiri Bosowa Corp"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*