Kerjasama Tim PC IRM Paciran

Studi Kasus: Membangun Di Atas Potensi, Kerjasama Tim di PC IRM Paciran Daerah Lamongan Wilayah Jawa Timur

Jet Li, adalah aktor laga mandarin yang meroket namanya lewat sekuel film Once Upon Time in China, (Jaman Dulu Kala di China) yang memerankan pahlawan legendaris China, Wong Fei Hung.

Diceritakan bahwa, Wong Fei Hung adalah alumnus Shaolin yang hijrah dari Fusan ke Kanton dan membuka panti sosial Pu Chin Lam, sebuah yayasan yang memberi pengobatan gratis pada orang miskin dan memperjuangkan nasib rakyat kecil yang tertindas oleh pemerintah yang korup.

Ilustrasi: Team Work

Ayahnya Wong Fei Hung adalah seorang pegawai pemerintahan Dinasti Ching yang yang berkuasa saat itu yang merupakan anak pertama dari 13 bersaudara, yang sebelas pertama sudah berkeluarga, sedangkan dua terakhir belum menikah. Keduanya wanita, sebaya dengan Fei Hung, keduanya sekolah di Amerika, keduanya sama-sama jatuh cinta pada Fei Hung, keponakannya sendiri, dan keduanya sama-sama menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan Fei Hung. Episode terakhir dari Film Once Upon a Time in China, menceritakan bahwa akhirnya Fei Hung menikah dengan bibinya yang ke-12, Diana namanya (yang selalu diperankan oleh Rusamund Kwan).

Wong Fei Hung dan Diana adalah dua pribadi yang sangat berbeda. Fei Hung adalah tipe pria China kolokan yang sangat fanatik dengan budaya China, terkesan anti barat dan tidak bisa menerima budaya barat yang dinilainya tidak baik. Sedangkan Diana, istrinya, adalah wanita China yang dididik dan dibesarkan dalam dunia barat, baik penampilan maupun gayanya lebih mirip orang barat daripada orang China. Satu-satunya persamaan yang ada di antara mereka adalah, bahwa mereka menikah karena saling mencintai, bukan terpaksa atau kecelakaan.

Setelah mereka berkeluarga dan dikaruniai anak, Wong Fei Hung memilih mundur dari dunia persilatan yang telah membuat namanya disegani, meninggalkan Kanton yang hiruk-pikuk dan lalu menyepi ke kota terpencil. Sementara Diana istrinya dengan setia menemani dan meninggalkan segala atribut kebarat-baratan yang selama ini ia sandang. Selanjutnya mereka berdua berkonsentrasi membesarnya anak semata wayangnya, yang diberinama Jacky.

Fei Hung mengajari Jacky dengan sastra China, Wushu Shaolin, Taichi Wudang dan memainkan Barongsai Tradisional. Dan tatkala Jacky telah tumbuh remaja dan jatuh cinta dengan putri gubernur yang jebolan Universitas Los Angles, Dianapun mengajari Jacky berbahasa Inggris, cara bergaul dengan orang barat, berdansa tango dan “cara berpacaran”.

Akhir kisah Wong Fei Hung memang tidak ada klimaks apalagi titik balik. Namun yang jelas, dari sepenggal kisahnya ada hal yang sangat menarik, “membangun kebersamaan dari potensi yang berbeda”.

Perbedaan adalah hal yang tidak mungkin dihindari, bahkan pasti ada. Justru yang terpenting adalah bagaimana mensikapi sebuah perbedaan itu sendiri.

***

PC IRM Paciran dibangun di atas pondasi 36 ranting dari, Blimbing hingga Warulor, yang masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Ada yang ruwet, ada yang ndableg, ada yang keminter, ada yang minteri, ada yang suka ngeyel, ada yang nrimo, dan ada yang hiperaktif.

Masing-masing personal Pimpinan Cabang dibesarkan oleh ranting yang berbeda, dan membentuk pribadi yang berbeda pula. Sebagian ada yang sanggup meninggalkan atribut rantingnya, dan siap menjadi personal PC seutuhnya, namun sebagian besar personal PC masih menganggap dirinya adalah wakil Ranting di Cabang dan ada pula yang malah menyalahgunakankan kedudukannya di PC untuk kepentingan Rantingnya.

Kasus-kasus di atas bukan tanpa sebab bukan pula tanpa alasan, semuanya banyak berpulang pada bagaimana corak Ranting dari mana personal PC berasal. Personal Cabang yang berasal dari Pondok Pesantren Karangasem, jika tinggal di asrama dan/atau tidak memiliki latar belakang IRM yang kuat, jarang sekali yang betul-betul bisa aktif, namun jika mereka telah terlibat aktif di IRM sejak MTs/SMP dan/atau telah menjadi personal Cabang sejak awal, banyak yang bisa diandalkan.

Sebuah kesalahan besar jika Ketua Umum berharap semua personal Cabang akan seperti dia, minimal sangat sesuai dengan yang ia harapkan. Justru yang terpenting sekarang adalah, bagaimana kita membangun IRM Cabang Paciran diatas pondasi 36 ranting, membangun berpondasi IRM Pondok Pesantren Karangasem yang ndablek, MTsM Pondok Modern yang ruwet, MAM 02 Pondok Modern Muhammadiyah Paciran & MAK 02 Pondok Modern Muhammadiyah Paciran yang keminter,  Sidokelar yang minteri, Tlogosadang yang koperatif, SMU Blimbing yang antusias, Weru yang misterius, dan lain-lain.

Inilah kunci pokok bekerja dalam sebuah tim yang efektif, secara arif mensikapi perbedaan.

Ketika Wong Fei Hung dan Diana memutuskan untuk menikah, yang ada di benak mereka adalah satu kata, saling mencintai. Dan ketika rumah tangga mereka telah berjalan dan membuahkan seorang putra, lagi-lagi yang ada dalam benak mereka adalah bahu-membahu mempertahankan dan memperkokoh keluarga. Bukan tidak ada dalam pikiran mereka untuk menjadi kaya, tenar, atau dapat berbesan dengan gubernur, namun dengan dimulai dari sebuah rumah tangga yang kokoh dan harmonis, kekayaanpun dapat didapat dengan mudah (kekayaan tidak harus diukur dengan materi), tenar sebagai sebuah keluarga yang harmonis, lalu jusru gubernur sendirilah yang datang untuk menjodohkan putra-putri mereka.

Dalam sebuah tim, yang dalam hal ini adalah PC IRM Paciran, yang terpenting bukanlah bagaimana melaksanakan program kerja secara keseluruhan, namun yang paling penting adalah tim itu sendiri. Program kerja tidak mungkin terlaksana tanpa dukungan tim yang tangguh.

Salah besar jika menguras energi hanya untuk mengejar target pelaksanaan program kerja. Yang jauh lebih penting adalah memusatkan perhatian untuk membangun tim yang tangguh. Jika tim benar-benar tangguh, target dapat dicapai dengan sendirinya. Jika personal pimpinan betul-betul dapat ‘dikendalikan’, program kerja dapat berjalan dengan sendirinya.

Be the first to comment on "Kerjasama Tim PC IRM Paciran"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*